Dei #Part2

 

Dei
Dei

Prev,Part 1

Sesekali Lana melirik pengendara sepeda motor di belakang mobilnya.

Jadi dia bener-bener nemenin sampai sejauh ini? 

Seulas senyum malu-malu muncul di wajah Lana, sayangnya pria yang sedang dipikirkannya tak bisa melihat rona yang tercipta di pipinya. Lana sendiri merasa aneh, ia tak pernah merasa seperti itu sebelumnya bahkan ketika dirinya bertemu artis hollywood sekalipun.

Ketika memasuki kawasan kompleks tempat Lana tinggal, Dei menghentikan motornya dan hanya menatap mobil itu menghilang di tikungan.

Lana kembali melirik spion tengah, namun ia tak menemukan pengendara motor yang menemaninya sepanjang jalan pulang ini. Ia menoleh sejenak ke belakang untuk memastikan.

Benar, pria itu tak lagi membuntutinya, maka ia pun meghentikan mobilnya. “Kok dia nggak ada?” herannya seraya melepas seatbelt dan keluar dari mobil.  Ia celingukan.

“Tuh kan … dia beneran udah nggak ada,” keluhnya kecewa, “padahal … aku kan masih mau ngucapin terima kasih karena udah nganterin sampai sejauh ini,” katanya seraya menyilakan rambutnya. Dan di dalam hati ia mengakui bukan hanya asalan itu saja ia berharap pria itu masih menemaninya.  Akhirnya ia pun memasuki mobilnya lagi.

Dei melaju ke kontrakan, sesampainya di sana ketiga temannya tengah memonton televisi seraya becanda. Ia menyenderkan tubuhnya di bingkai pintu yang masih dibiarkan terbuka oleh Tio.

“Katanya cape … mau ngorok, malah masih nongkrong di depan tv!” sindirnya.

Tio, Aman dan Hendro menoleh sejenak, “Acara komedi nih, lucu. Daripada nonton berita, pusing,” sahut Hendro.

“Si Ruri mana?” tanya Dei.

“Udah molor dia,” jawab Tio.

Dei melangkah menuju kamar, Tio memperhatikan. “Bang, kok semalem ini baru sampe. Emang tadi nggak langsung tutup?”

“Macet,” sahutnya singkat. Ia pikir tak perlu menceritakan alasan sesungguhnya ia kemalaman. Rumah gadis yang ditolongnya itu kan berlawanan arah dengan kontrakannya. Dei sekamar dengan Tio, sementara Ruri, Hendro dan Amar di kamar sebelah. Kontrakan itu hanya ada dua kamar tidur, satu kamar mandi di dekat dapur, satu ruang tamu sekaligus ruang tv.


Lana menyangga dagunya sambil senyum malu-malu, di depannya Via mengoceh seraya menyantap makan siangnya. Namun karena temannya tak menanggapi ocehannya seperti biasa ia pun menaruh sendok lalu menatap temannya.

“Lan,” panggilnya. Lana masih asyik sendiri. “Nih bocah kesambet atau kenapa? … Lana!” seru Via setengah berteriak.

Lana tersentak seketika, “Apaan sih, teriak-teriak. Kamu pikir aku budek apa?” marahnya.

“Kok jadi kamu yang marah, yang dari tadi nyuekin aku itu siapa? Nih mulut pegel tahu nggak ngomong, eh … kamu malah asyik ngelamun. Ngelamunin apa sih?” balasnya.

Lana tersadar kalau dirinya baru saja memikirkan pria itu. Ia segera mengaduk jus stroberinya dan menyedotnya perlahan sebagai pengalihan.

“Hem … pasti cowo ya …,” goda Via. “Si Ken?”

“Ken?” desis Lana menatap Via, “Ih, males banget mikirin dia.”

“Kalau bukan Ken, terus siapa? Kan yang getol banget ngejar-ngejar kamu itu sih Ken!”

“Aduh, Via … nggak usah ngomongin dia ya. Bikin badmood tahu nggak!” kesalnya.

“Ok-ok,” seru Via lalu memasukan sesendok makanannya lagi ke mulut.

Lana mengaduk jusnya lagi dengan menyelipkan senyum di bibirnya, “Sebenarnya semalam aku mau dibegal,”

“Uhuk,” seketika Via kesedak saat mengunyah, “Uhuk-uhuk, uhuk-uhuk-uhuk,” ia lalu menyedot jus jeruknya hingga batuknya mereda setelah itu menatap wajah temannya yang justru tengah tersipu. Ekspresi panik di waja Via pun berubah menjadi keheranan. “Loh, kamu dibegal kok malah senyum-senyum gitu?”

“Ya karena nggak jadi dibegal,”

“So … kalau nggak jadi dibegal haruskah girangnya kaya’ abis ketemu pangeran gitu?”

“NAH, itu dia!” seru Lana menepuk lengan sahabatnya. Membuatnya sedikit terkejut, “Kamu tahu nggak, aku nggak jadi dibegal itu karena ditolong sama cowo yang keren banget,”

“Hah,”

“Dia itu cool, ganteng, dan yang pasti … aku ngerasa … aduh … dia itu charming kaya’ seorang pangeran,” puji Lana denga ekspresi gemas yang membuat Via justru menggaruk kepalanya. Bagaimana tidak, Lana yang ia kenal tak pernah memuji pria mana pun sampai segitunya. Ken yang keren abis aja dicuekin terus!

Via menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi Lana, membuatnya sedikit tersentak. Mereka bertatapan sejenak.

“Kamu kesambet ya?” tanya Via, “tumben, seorang Lana muji-muji cowo yang kenal aja enggak!”

“Enak aja kesambet, kesurupan sekalian!” sewotnya menyilakan rambutnya yang tergerai indah.

“Tapi, Lan. Mama kamu tahu kamu hampir dibegal semalam?”

“Ya enggaklah, kalau Mama sampai tahu … sekarang nih pasti udah ada selusin bodyguard yang nemenin aku tiap detik. Ih, serem banget! Nggak asik tahu,” sahutnya dengan nada geli.

“Ha … ha … ha ….” Via malah menanggapinya dengan tawa.


Diona membaca file itu dengan seksama, seorang pria paruh baya yang duduk semeja dengannya itu diam memperhatikan. Menunggu.

Diona menutup dokumen itu lalu menatap orang di depannya. “Apakah Anda yakin prospeknya akan sebagus ini?”

“Kami sudah memperhitungankannya, dan saya berani menjamin. Karena bisnis ini sekarang sedang populer, apalagi di kalangan milenial.”

“Ok, saya rasa Anda mendapatkan perhatian saya. Dan saya harap, Ada tidak mengecewakan saya!”

Pria itu tersenyum girang, seraya berdiri ia mengulurkan tangannya. “Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada kami,”

Diona menyambut jabatan tangan itu. “Sama-sama,”

Mereka menyudahi pertemuan itu, meninggalkan restoran dan menuju mobil masing-masing.

“Kita kembali ke kantor, Bu?” tanya Heru yang sudah siap di balik kemudi.

“Ya, tapi kita mampir ke bank dulu.”

Dei dan Hendro berjalan meninggalkan masjid, mereka biasa bergilir untuk menjalanlan solat.

Sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang mencegat mobil Diona, mereka memang sudah mengikuti sejak dari bank.

“Siapa mereka?” panik Diona,

“Bukannya mereka yang duduk nggak jauh dari bank tadi, Bu.”

Dua orang itu menggedor pintu mobil sambil berteriak menyuruh pengemudinya keluar.

“Hei, turun lo!”

“Sepertinya mereka rampok, Her. Bagaimana ini?”

“Bu Diona jangan turun dari mobil,” pinta Heru lalu keluar.  “Mau apa kalian?”

“Jangan banyak omong, serahin uangnya sekarang!” hardik pria berjambang tebal itu sambil mengacungkan sebilah pisau.

“Jangan harap,” jawab Heru mendorong pria itu dan menyerangnya. Terjadi perkelahian di antara mereka, sementara pria yang satu lagi membuka pintu mobil di mana Diona berada.

Diona panik, ia melirik tas di sisinya dan segera menyambarnya. Saat itu juga sang pria melakukan hal yang sama. Mereka pun berebut tas yang berisi uang ratusan juta.

“Lepasin, atau gua bunuh lo!” ancam pria itu.

Diona melepaskan tas itu namun dengan sigap ia juga memukul kepala pria itu dengan tas tangannya. Seketika sang pria meraung dan mengumpat. “Brengsek!”

Diona segera keluar dari mobil dengan panik. Celingukan, terutama ketika melihat Heru mulai kewelahan.

Akhirnya ia pun berteriak. “Tolong … tolong ….”

Pria yang tadi beradu dengan dirinya pun menghampiri, “Jangan berisik lo!”

Dei dan Hendro yang selalu melewati jalanan itu melihat. “Bang, kaya’nya mereka dirampok deh,” seru Hendro, “siapa yang masih berani berulah di daerah kita?”

Tanpa pikir panjang, Dei segera berlari untuk menolong. Hendro pun mengikuti.

Hendro membantu Heru sementara Dei menolong Diona. Ia menarik lengan pria itu yang hendak memukul Diona, lalu menghantam tepat di wajahnya.

Orang itu terpental ke belakang lalu memegang hidungnya yang berdarah. Nampak amarah langsung memuncak, ia menatap orang yang memukulnya lalu membalas.

Diona merapat ke mobilnya, hanya menyaksikan sampai dua perampok itu melarikan diri. Hendro menendang motor dua rampok itu yang hendak melaju.

Heru berusaha bangkit, Hendro membantunya, “Bapak nggak apa-apa?”

“Saya baik-baik saja, Mas. Terima kasih,” sahut Heru.

Dei menoleh dan menghampiri Diona.

“Anda tidak apa-apa?” tanyanya.

Diona tak menyahut, ia justru menatap Dei dalam. Mencoba mengingat kapan mereka pernah bertemu.

“Tunggu,” serunya, “Kamu …” ia menunjuk Dei, “ya, saya ingat. Kamu yang dulu pernah nodong saya, kan?”

Dei melebarkan bola matanya tanpa suara, mencoba mengingat wajah wanita itu dari sekian banyak korbannya di masalalu.

“Jangan kamu pikir saya lupa sama wajah kamu, dan apa ini? Trik baru dari kamu dan teman-temanmu?” curiga Diona.

Dei masih diam. Sepertinya ia mulai mengenali wajah wanita di depannya.

“Kamu mau pura-pura menolong saya agar bisa memeras saya, begitu!” sunggingan senyum getir tercipta di sudut bibir Diona. “Dasar preman rendahan, penjahat!” cibirnya.

Dei mengeraskan rahang.

———-o0o———-

Next, Part 3

Baca juga, Part 1

Advertisements

Dei #Part 1

Part 1

“Alhamdulillah ya, Bang. Bengkel kita mulai ramai,” seru Tio selesai membereskan peralatan. Ia berjalan mendekat, menyeret kursi dan duduk di dekatnya.

“Ya, kita memang harus bersyukur. Meskipun nggak seberapa, tapi ini halal,” sahutnya seraya mengunci laci meja kasir.

Hendro, Aman, dan Ruri menghampiri.

“Yuk balik, capek gua hari ini!” ajak Hendro.

“Kalian duluan aja, entar gua nyusul!” suruhnya menggaruk sisi dahinya yang tidak gatal.

“Ya udah, kita cabut dulu,” sahut Tio seraya berdiri dan meninggalkan tempat itu bersama tiga temannya.

Dei menatap keempatnya hingga motor mereka menghilang ditelan kegelapan. Senyum tipis terlukis di ujung bibirnya, ada sebuah rasa lega yang tercipta karena keadaan mulai membaik. Dan mereka mulai menikmati hidup baru yang mereka jalani. Ia pun bangkit dan memungut jaketnya di sandaran kursi. Memakainya seraya berjalan keluar, ia pun menarik rolling dorr hingga ke bawah dan menguncinya.


“Iya, Ma. Ini Lana udah dalam perjalanan pulang kok,” jawab Lana yang tengah menerima telpon dari mamanya seraya menyetir mobilnya.

“Iyaa…,” sahutnya lagi dengan nada yang sedikit jengah. Ia kan bukan anak kecil lagi, tak perlu harus dikontrol tiap saat seperti remaja yang baru tumbuh! Setelah sambungan telponnya mati ia pun mendesah lega dan juga kesal.

“Kapan aku bebas memutuskan segala sesuatu atas kehendakku sendiri?” keluhnya meremas stir.

Tok… tok… tok…

Lana gerlonjak kaget ketika ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ia menoleh ke sisi kanan, dua orang yang berboncengan sepeda motor sedang memberinya instruksi. Karena tidak paham maka ia pun membuka kaca,

“Neng, bannya bocor,” seru orangnya.

“Hah…?” sahut Lana yang tak mendengar.

“Ban – ban, bannya bocor!”

“Bocor? ban mobil saya?” tanyanya lalu ia mencoba menengok ban mobilnya.

“Berhenti dulu, Neng. Bahaya kalau nggak diperbaiki dulu,” suruh orang itu.

Tanpa curiga Lana segera menepikan mobilnya. Jalanan itu cukup sepi rupanya saat Lana turun, pengendara motor itu juga menepi dan turun.

Saat Lana tengah memeriksa ban mobilnya. Dua orang itu langsung menodongnya dengan pisau.

“Heh, serahin barang-barang lo!”

Tubuh Lana sedikit melonjak, ia tak meyangka kalau ternyata hal itu hanya jebakan. Orang itu mau merampoknya. Ia sedikit celingukan, berharap ada yang akan menolongnya. Namun sepertinya tempat itu sedang kosong. Tak ada satu kendaraan pun yang lewat.

“Kalian mau apa? rampok hah?” serunya ketakutan.

“Masih nanya lagi,” gertak yang satunya lagi. “Kalau lo mau selamat, sekarang serahin semua yang lo punya, termasuk pin ATM lo!” ancamnya.

“Hah, pin ATM? buat apaan, Bang?”

“Ya buat ngambil duit lo lah, di ATM lo pasti banyak duit kan?” bentaknya.

“Aduh, Bang. Jangan… nanti saya dimarain sama Mama,”

“Itu bukan urusan gue!”

Sementara pria yang satunya mengecek isi mobil, ia menyambar tas Lana. Memeriksa isinya, dan senyum sumringah muncul di wajahnya. “In baru namanya mangsa…,” gumannya membawa tas itu menghampiri temanja dan menunjukan dompet Lana yang cukup tebal.

“Kalian boleh ambil semua uangnya, tapi jangan apa-apain saya!” Lana sedikit celingukan berharap ada yang datang menolong.

“Enak aja, kenapa jadi lo yang ngatur?” seru orang yang menodongnya. “Kalau kita lepasin lo, lo pasti bakal lapor polisi kan?”

“Enggak kok, enggak. Saya janji nggak akan lapor polisi, swear!” katanya mengacungkan dua jarinya. Namun dua pria yang merampoknya rupanya tak puas sampai di situ. Mereka menarik Lana untuk masuk ke dalam mobil. Mereka berniat membawa gadis itu bersama mobilnya dan entah apa yang akan mereka lakukan.

“Enggak, lepasin… tolong….!” rontanya berteriak. Mereka tetap memaksanya.

“Tolong…, siapa pun tolong…,hem…emmm,” Salah satu pria itu membekap mulutnya yang berisik.

Sebuah motor yang melaju kencang ke arah mereka mulai melambat dan akhirnya berhenti di depan mobil itu.

“Sial!” maki salah seorang dari dua pria itu.

Pengemudi motor itu menghampiri, “Dasar banci, beraninya cuma sama cewe!” cibirnya.

“Nggak usah ikut campur lo, mau cari mati!” seru yang berambut kriting lalu menyerangnya.

Langsung terjadi perkelahian di antara mereka, sementara yang satunya masih memegang lengan Lana. Namun ketika melihat temannya tumbang, ia pun segera ikut menyerang pengganggunya. Lana yang sudah terlepas segera merapatkan diri ke mobilnya. Tak membutuhkan waktu lama, dua perampok itu lari kocar-kacir bersama motornya. Sementara Lana akhirnya merasa lega, ia menghirup nafas panjang untuk menenangkan diri. Namun matanya tak lepas dari sosok pria yang menyelamatkannya. Pria itu memungut isi tas Lana yang berserakan, memasukan semuanya ke dalam tas lalu meghampiri pemiliknya untuk menyerahkannya.

“Ini tas kamu, kamu nggak apa-apa kan?” tanyanya. Namun yang ditanyai malah bengong saja.

“Hei!” sapanya.

“A,” seru Lana terjaga, mendapati pra itu sudah tepat berada di hadapannya membuatnya salah tingkah. “Aeh…,”

“Tas kamu,” ulang pria itu.

“Tas,” desis Lana lalu tatapannya turun ke tangan sang penolongnya, “Ouh, maaf!” ia pun menerima tasnya sendiri. “Terima kasih ya, kamu … sudah nolongin aku,”

“Sama-sama, lain kali kalau udah malam jangan keluyuran sendirian!” pesannya lalu berbalik dan siap melangkah.

“Hei, tunggu!” panggil Lana menghentikan. Pria itu terpaksa menolehnya tanpa menyahut, “Eh, begini… jalanannya kan sepi sampai ke blok berikutnya. Aku takut kalau nanti ada orang jahat lagi, kamu searah kan?”

Ia tak menyahut, hanya mengangguk pelan.

Seulas senyum tipis muncul di wajah Lana, “Jadi, eh… maukah kamu … nemenin aku. Eh, maksudnya … kita barengan sampai di jalan yang ramai. Soalnya aku takut kalau nanti di depan ada yang mau ngerampok lagi… eh,”

“Ya,” potongnya menghentikan ocehan Lana. Sedari tadi ia tak melepaskan tatapannya dari gadis itu.

“Ya…?”

“Aku temenin sampai jalanan yang ramai,”

“Bener, makasih ya.”

Ia hanya membalas dengan senyum kecil lalu kembali berbalik.

“Hei,”

Sekali lagi Lana memanggilnya, membuatnya kembali berbalik. Dan tetap sama, tanpa suara. Hanya memberi tanggapan melalui ekspresi bertanya,

“Ehm…, nama kamu siapa? Aku Lana. Alana,” tanya Lana memperkenalka diri seraya mengangsurkan telapak tangannya yang lentik.

Pria itu menatapnya lembut, lalu tatapannya turun ke tangan putih di depannya. Seraya mengembalikan tatapannya, ia menyambut tangan itu.

“Dei,”

———-o0o———-

Next, Part 2

 

 

Dalam Kata Kutemukan Duniaku